Iket Sunda

Info dan opini mengenai Iket Sunda untuk melestarikan budaya Tatar Sunda

Tuesday, June 28, 2016

Budaya Sunda

10:28:00 PM
Budaya Sunda adalah budaya yang tumbuh dan hidup dalam masyarakat Sunda. Budaya Sunda dikenal dengan budaya yang sangat menjunjung tinggi sopan santun. Pada umumnya karakter masyarakat Sunda adalah periang, ramah-tamah (soméah, seperti dalam falsafah someah hade ka semah), murah senyum, lemah-lembut, dan sangat menghormati orang tua. Itulah cermin budaya masyarakat Sunda.

Etos Budaya
Kebudayaan Sunda termasuk salah satu kebudayaan tertua di Nusantara. Kebudayaan Sunda yang ideal kemudian sering kali dikaitkan sebagai kebudayaan masa Kerajaan Sunda. Ada beberapa ajaran dalam budaya Sunda tentang jalan menuju keutamaan hidup. Etos dan watak Sunda itu adalah cageur, bageur, singer dan pinter, yang dapat diartikan sehat, baik, mawas, dan cerdas. Kebudayaan Sunda juga merupakan salah satu kebudayaan yang menjadi sumber kekayaan bagi bangsa Indonesia yang dalam perkembangannya perlu dilestarikan. Sistem kepercayaan spiritual tradisional Sunda adalah Sunda Wiwitan yang mengajarkan keselarasan hidup dengan alam. Kini, hampir sebagian besar masyarakat Sunda beragama Islam, namun ada beberapa yang tidak beragama Islam, walaupun berbeda namun pada dasarnya seluruh kehidupan ditujukan untuk kebaikan di alam semesta.

Nilai-nilai Budaya
Kebudayaan Sunda memiliki ciri khas tertentu yang membedakannya dari kebudayaan–kebudayaan lain. Secara umum masyarakat Jawa Barat atau Tatar Sunda, dikenal sebagai masyarakat yang lembut, religius, dan sangat spiritual. Kecenderungan ini tampak sebagaimana dalam pameo silih asih, silih asah dan silih asuh; saling mengasihi (mengutamakan sifat welas asih), saling menyempurnakan atau memperbaiki diri (melalui pendidikan dan berbagi ilmu), dan saling melindungi (saling menjaga keselamatan). Selain itu Sunda juga memiliki sejumlah nilai-nilai lain seperti kesopanan, rendah hati terhadap sesama, hormat kepada yang lebih tua, dan menyayangi kepada yang lebih kecil. Pada kebudayaan Sunda keseimbangan magis dipertahankan dengan cara melakukan upacara-upacara adat sedangkan keseimbangan sosial masyarakat Sunda melakukan gotong-royong untuk mempertahankannya.

Kesenian
Budaya Sunda memiliki banyak kesenian, diantaranya adalah kesenian sisingaan, tarian khas Sunda, wayang golek, permainan anak-anak, dan alat musik serta kesenian musik tradisional Sunda yang bisanya dimainkan pada pagelaran kesenian.

Sisingaan adalah kesenian khas Sunda yang menampilkan 2–4 boneka singa yang diusung oleh para pemainnya sambil menari. Sisingaan sering digunakan dalam acara tertentu, seperti pada acara khitanan. Wayang golek adalah boneka kayu yang dimainkan berdasarkan karakter tertentu dalam suatu cerita pewayangan. Wayang dimainkan oleh seorang dalang yang menguasai berbagai karakter maupun suara tokoh yang di mainkan. Jaipongan adalah pengembangan dan akar dari tarian klasik. Tarian Ketuk Tilu , sesuai dengan namanya Tarian ketuk tilu berasal dari nama sebuah instrumen atau alat musik tradisional yang disebut ketuk sejumlah 3 buah.

Kesenian Sunda
Kesenian Sunda

Alat musik khas sunda yaitu, angklung, rampak kendang, suling, kacapi, goong, calung. Angklung adalah instrumen musik yang terbuat dari bambu yang unik enak didengar. Angklung juga sudah menjadi salah satu warisan kebudayaan Indonesia. Rampak kendang adalah beberapa kendang (instrumen musik tradisional Sunda) yang dimainkan bersama secara serentak. Seni Reak (kuda lumping) adalah sebuah pertunjukan yang terdiri dari empat alat musik ritmis yang berbentuk seperti drum yang terbuat dari kayu dan alas yang di pukul terbuat dari kulit sapi, yang di sebut dog-dog yang ukurannya beragam yaitu Tilingtit (ukuran kecil), Tung (lebih besar dari Tilingtit), Brung (lebih besar dari Tung), Badoblag (lebih besar dari Brung).

Ditambah oleh 1 alat musik ritmis bernama bedug yang dipikul dua orang dan ditambah lagi oleh satu alat musik melodis berupa Tarompet yang terbuat dari kayu yang melantunkan musik sunda sampai dangdut yang terkadang di temani seorang sinden. Seni reak ini menampilkan atraksi transendensi dunia metafisika ke dalam dunia profan yang disebut (kaul atau jadi, hari jadi) dan atraksi dari Bangbarogan. Bangbarongan adalah sebuah kostum yang digunakan oleh orang yang sedang kaul, terbuat dari kayu yang berbentuk kepala besar bertaring dan berwarna merah ditambah karung goni untuk menutupi tubuh sang pemakai. Seni ini terdapat di daerah Bandung Timur dari kecamatan Ujung Berung, Cibiru sampai dengan Kabupaten Sumedang.

Sumber: Wikipedia

Filosofi Iket Sunda Menurut Gugum Gumelar

10:20:00 PM
Orang Jepang Pakai Iket Sunda
Perwakilan Auto2000 asal Jepang Memakai Iket Sunda Naratas

"…saceundeung kaen" (Bujangga Manik, isi naskah baris 36)

PENGGALAN kalimat tertulis di atas terdapat dalam naskah kuno Bujangga Manik yang menceritakan perjalanan Prabu Jaya Pakuan, seorang Raja Pakuan Pajajaran yang memilih hidupnya sebagai resi. Naskah diperkirakan ditulis sekitar abad ke-14. Isi naskah terdiri atas 29 lembar daun nipah yang masing-masing berisi 56 baris kalimat, terdiri atas 8 suku kata.


Kalimat “…saceundeung kaen” mengandung arti selembar kain yang sering digunakan sebagai penutup kepala. Di tatar Sunda disebut totopong, iket, ataupun udeng. Pemakaian iket berkaitan dengan kegiatan sehari-hari ataupun ketika ada perhelaan resmi seperti upacara adat dan musyawarah adat. Untuk beberapa waktu, umumnya kain penutup kepala hanya disebut totopong, iket, atau udengtotopong, iket, atauudeng. Tidak ada bukti tertulis mengenai sumber sejarah tentang penamaan iket atau yang sekarang disebut rupa iket. Akan tetapi, dalam perkembangan zaman, penamaan untuk rupa iket menjadi bagian dari kebudayaan yang mengandung nilai dan makna tersendiri.

Penamaan atau rupa iket dikategorikan sesuai zamannya, yaitu iket buhun (kuno) daniket kiwari (sekarang). Untuk iket buhun sendiri ada yang berupa bentuk iket yang telah menjadi warisan secara turun-temurun dari para leluhur, ada pula rupa iket yang lahir dari kampung adat. Sementara itu, untuk iket kiwari, iket tersebut merupakan rekaan dari beberapa orang yang memiliki rasa kebanggaan terhadap budaya iket buhun dan kreativitas dari nilai kearifan lokal.

Bakhan, beberapa rupa iket kiwari itu sendiri masih memiliki ciri yang mengacu pada pola rupa iket buhun. Beberapa nama rupa iket buhun yang dikenal oleh sebagian besar umumnya adalah Barangbang Semplak, Parekos Jengkol, Parekos Nangka, danJulang Ngapak. Parekos atau paros memiliki arti “menutup”. Yang berarti tipe rupa iket yang menutup bagian atas kepala atau hampir membungkus.

Dalam perupaan iket, di dalamnya lerkandung filosofi. Hal inilah yang membuat iketitu sendiri menjadi salah satu warisan leluhur yang mengandung nilai yang begitu tinggi adanya. Seperti filosofi yang terkandung dalam rupa iket Julang Ngapak yang konon dahulunya dipakai khusus oleh para pandita kerajaan atau disebut purahita.

Filosofi yang terkandung berdasar kepada laku hidup seekor burung Julang (Sundanese wrinkled hornbill). Tipe burung ini sebelum mereka mendapatkan sumber air tersebut, mereka tidak akan berhenti mencari. Karakter inilah yang diadopsikan menjadi simbol Julang Ngapak, yaitu bahwa kita jangan pernah lelah mencari sumber kehidupan (ilmu, darma, dan jatidiri) sebelum mencapai hasil yang diinginkan.

Di luar rupa atau penamaannya, iket Sunda sendiri mengandung nilai makna filosofi yang dikenal dengan sebutan Dulur Opat Kalima Pancer. Dulur Opat merupakan empat inti kehidupan yaitu api, air, tanah, dan angin. Dan Kalima Pancer mengandung makna yaitu berpusat pada diri kita sendiri. secara garis besar, Dulur Opat Kalima Pancermemiliki arti bahwa empat elemen inti tersebut terdapat pada diri kita dan berpusat menyatu sebagai perwujudan diri.

Mengenai iket kiwari yang telah berkembang saat ini, penamaan dan bentuk tetap berdasar kepada pola rupa iket buhun. Tanpa mengurangi nilai luhur dari warisan leluhur, begitu pun iket kiwari memiliki nilai-nilai filosofi di dalamnya. Hal inilah yang menjadi bagian dari pelestarian budaya yang bersifat kreatif, tetapi tetap memegang teguh nilai kearifan lokalnya. Terutama di kalangan generasi muda. Mereka memiliki cara pandang yang berbeda dalam membentuk iket tetapi tetap memiliki acuan terhadap satu garis penciptaan karya buhun (kuno).

Komunitas Iket Sunda (KIS) sendiri merupakan bentuk kreativitas sebagai wadah dalam melestarikan dan memperkenalkan budaya iket terhadap kalangan muda.

Keberkaitan
Didalam konteks keberagaman, sesungguhnya ada keberkaitan erat antara nilai-nilai filosofi iket dengan fungsi penutup kepala dalam kaitan nilai Islam. Fungsi dari iketmenurut Islam umumnya adalah bisa digunakan sebagai sajadah, pengganti tutup kepala. Hal itulah yang membentuk hubungan antara manusia dan Allah Yang Pencipta yang disebut hablumminallah. Fungsi sebagai hablumminanas adalah iket sebagai penyambung silaturahmi berdasarkan warisan budaya dan iket sebagai bagian dari cara saling memberi ilmu pengetahuan.

Dalam dunia Islam, dikenal serban atau sorban sebagai penutup kepala, sebagai bagian dari kelengkapan dalam salat atau beribadah. Memakai serban bagi umat Muslim adalah sunnah Nabi. Dalam beberapa hadis riwayat para sahabat Nabi Muhammad saw, mereka menceritakaan bahwa Nabi selalu menganjurkan agar memakai penutup kepala sebagai bagian dari kelengkapan pakaian salat dan bahkan di luar salat.

Di tatar nusantara sendiri, kita mengenal Wali Songo. Dari beberapa sumber sejarah, kesemuanya memakai penutup kepala. Menurut Oom Somara de Uci, sejarawan dari Rahagaluh, dahulu model rupa iket para wali diadopsi dari rupa iketCakraningrat yang merupakan warisan Prabu Cakraningrat yang memiliki kekuasaan kerajaan sekitar Rajagaluh majalengka. Iket yang dikemudian hari disebut iket Cakraningrat Rajagaluh ini mengandung nilai filosofi yaitu iket yang melindungi mustika; mastaka (kepala).

Ini bisa bermakna, mustika ini adalah kepala kita yang memiliki sumber dari sifat dan sikap kita di dunia dari sudut pandang manusia yang memiliki otak sebagai akal pikiran yang bisa memilih mana yang baik dan buruk. Bahkan, dalam perkembangan waktu, model iket Cakraningratini disebut pula iket para wali.

Perbedaan iket Cakraningkat ini dengan iket Sunda lazimnya yaitu terlihat dari model kainnya. Iket Sunda pada umumnya berupa kain segi empat, sedangkan iketCakraningrat ini memakai kain persegi panjang sejenis karembong (selendang). Cara pemakaiannya rata-rata hanya diselipkan, tidak diiket atau ditali. Cara yang sama seperti pemakaian serban di kepala. Memang tidak ada sejarah tertulis sebagai bukti yang mendukung tentang iket Cakranignrat ini, tetapi kebedaannya menjadi bagian dari kekayaan budaya Sunda. Wallahu’alam bishawab


Sumber: Gugum Gumelar, pencinta budaya dan aktif di Komunitas Iket Sunda/*Pikiran Rakyat Edisi Sabtu, 23 Maret 2013 Via; http://archive69blog.blogspot.co.id/2013/03/makna-filosofis-dalam-iket-sunda.html

Lestarikan Budaya Daerah

10:11:00 PM
Cucu Abah Uha
Ketika ditanya mengenai kecintaan terhadap kebudayaan daerah, banyak yang menjawab "kami cinta budaya daerah", bahkan di antara mereka memberikan pernyataan seperti ini "Tidak disebut cinta negara jika tidak cinta budaya daerah. Kebudayaan deerah adalah kekayaan bangsa yang perlu dilestarikan". Pernyataan-pernyataan seperti itu sering kita dengar namun jarang terlihat orang yang mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Contoh sederhana, mereka hanya tahu baju pangsi Sunda tanpa tahu bagaimana "cacagan" pangsi adat Sunda asli yang merupakan warisan leluhur, mereka tahu iket Sunda segi empat tetapi tidak bisa mengenakannya, mereka lebih tahu Gunung Tangbuban Parahu sebagai tempat wisata ketimbang sejarahnya.


Kondisi tersebut memang wajar dan kita tidak bisa serta-merta menyalahkan mereka. Ini terjadi karena dipengaruhi banyak faktor seperti pendidikan, ekonomi, dan politik. Di negara lain, orang yang berprofesi di bidang budaya didukung penuh oleh pemerintah sehingga mereka dengan "leluasa" mampu melestarikan dan mengembangkan budaya. Dukungan pemerintah tersebut bisa berupa peralatan, dana, dan pelatihan. Di Indonesia sendiri, orang lebih mengutamakan ekonomi ketimbang memikirkan kebudayaan yang menurut beberapa orang tidak bisa memberikan keuntungan finansial. Mereka berfikir, "Untuk apa budaya kalau keluarganya tidak sekolah dan tidak makan".


Namun demikian, tentu saja tidak semua orang beranggapan seperti itu, Abah Uha contohnya. beliau sangat mencintai budaya daerah Sunda dan mendidik putra-putrinya agar mencintai budaya Sunda. Meski tidak ada dukungan dana dari pemerintah daerah, beliau merasa yakin bahwa dengan mengembangkan budaya Sunda, maka ekonomi pun dapat terangkat. Terbukti dengan Distro Kai yang beliau dirikan sebagai tempat usaha kecil-kecilan yang menjual beragam produk kasundaan seperti iket Sunda, tas koja, kalung kujang, dan baju adat Sunda.

Meski di tempat yang tidak terlalu luas, produk-produk yang ditawarkan di Distro Kai Abah Uha ini lumayan laku hingga boleh dikatakan mampu menghidupi keluarganya. Para pekerja yang notabene adalah masyarakat sekitar pun ikut merasakan hasil usahanya tersebut. Bukan hanya itu, beliau mengimpelemtasikan kecintaan terhadap budaya daerah melalui pakaian biasa dipakai sehari-hari, beliau tidak pernah lepas mengenakan iket segi empat, bahkan cucunya yang bernama Abdul Fatah Dzikrullah pun sengaja dipakaikan iket segi tiga di kepalanya yang masih berukuran kecil.

Kalau kita perhatikan, anak seusia Abdul Fatah Dzikrullah pun pantas mengenakan pakaian tradisional Sunda meskipun masih terbatas pada iket (Ikat Kepala). Maksud beliau bukan untuk pamer busana tetapi sekedar memperrlihatkan kepada masyarakat sekitar, bahwa kecintaan budaya daerah dapat dilatih sejak usia dini.

Yuk, kita coba melestarikan budaya Sunda! Mulai dari diri kita, mulai dari hal-hal kecil, dan mulai dari sekarang seperti yang diperlihatkan Abah Uha (pengelola Distro KAI) melalui iket yang dipakai oleh cucunya.

Sumber: http://www.galeri-iket.com/2014/12/iket-kain-segi-empat-2.html#berita

Monday, January 5, 2015

Cara Membuat Iket Sunda

3:29:00 PM
Iket adalah pakaian tradisional khas Indonesia yang biasa dikenakan oleh suku Jawa, Sunda, Bali, dan suku lainnya. Istilah iket sendiri cukup beragam tergantung dari daerah masing-masing. Di Bali misalnya dikenal dengan istilah Udeng dan di Sunda (Jawa Barat) dikenal dengan istilak Iket Sunda atau Totopong. Bentuk dan motif iket/ udeng pun kini semakin bervariasi seiring perkembangan seni dan fashion modern. Cara membuat iket sebenarnya tidak begitu mudah, dibutuhkan keuletan, ketelitian, dan keterempilan khusus.

Iket umumnya terbuat dari kain batik dengan corak khusus khas daerah masing-masing. Demikian juga dengan warna dan motifnya yang selalu dipengaruhi kultur dan kebudayaan setiap daerah. Iket Sunda dan Udeng Bali mempunyai sedikit perbedaan dalam bentuk dan motif. Tidak seperti peci, berdasarkan permintaan pasar kini iket semakin beragam baik motif, bentuk, ataupun warna. Untuk model iket tertentu ukurannya pun lebih fleksibel karena menggunakan karet di belakangnya sehingga dapat mengecil dan membesar.

Awalnya iket berbentuk kain segitiga atau segi empat yang dilipat khusus di kepala, namun karena banyaknya permintaan dari konsumen yang tidak bisa membuat lipatan di kelapa, maka kini iket dibuat praktis alias sudah jadi dan bisa langsung dipakai di kepala tanpa perlu melipatnya.Iket model ini dikenaldengan istilah iket praktis.

Dulu, iket atau udeng biasa digunakan di acara-acara khusus kedaerahan seperti upacara-upacara adat tradisional daerah tetapi di zaman modern ini iket bisa dipakai di segala event termasuk acara-acara formal dan non formal, bahkan di sekolah-sekolah dan di beberapa instansi pemerintah pun kini sudah diwajibkan mengenakan iket pada hari-hari tertentu.

Jika sahabat tertarik untuk membuat Iket Sunda sendiri, silakan saksikan video tutorialnya di 7InfoMedia. Di sana juga akan dijelaskan bahan-bahan dan peralatan yang diperlukan.
Selamat mencoba.

Sejarah Iket Sunda

3:19:00 PM

Introduksi 

Iket, Totopong, atau Udeng adalah tutup kepala dari bahan kain segi empat dengan corak khas kultur dan budaya asal iket tersebut. Memakainya dengan cara dilipat dan diikat melingkar di kepala. Iket dan totopong adalah istilah Sunda sedangkan udeng adalah istilah Bali. Dulu warna iket terbatas hanya putih dan hitam tetapi seiring perkembangan budaya, mode, dan fashion kini iket dibuat dalam beragam warna, motif, dan corak.

Sekilas fungsi utama iket atau udeng adalah sebagai sebagai pelindung dan penutup kepala dari panas matahari, angin, dan cuaca buruk lain. Bahkan kini fungsi iket sedikit bergeser menjadi mode dan pelengkap atau aksesoris busana tradisional.

Kalau kita lihat sejarah iket, fungsi iket bukan sekedar itu tetapi mengandung makna yang dalam (silakan dibaca filosofi iket). Eksistansi iket harus terus dilestarikan sehingga tetap dikenal oleh anak-anak muda generasi penerus yang sebelumnya sudah turun temurun. Jangan sampai mereka tidak tahu apa itu iket, apa itu udeng.

Dulu, iket biasa dipakai bukan saja oleh para petani dan masyarakat pada umumnnya tetapi juga dipakai oleh pejabat-pejabat kerajaan zaman dulu yang dipakai sesuai fungsi atau jabatan pekerjaan masing-masing dan bukan berdasarkan kasta atau status sosial seseorang di mata masyarakat karena suku Sunda dari dulu tidak mengenal kasta sesuai dengan namanaya Padjadjaran (Pajajaran) yang berarti persejajaran atau sejajar. Artinya setiap orang mempunyai jabatan tertinggi pada profesisnya masing-masing.

Contoh sederhana, orang yang biasa bergelut di bidang beladiri (jawara) seperti para guru beladiri pencak silat, mande, dan beladiri lainnya biasa menggunakan iket model Barangbang Semplak, Ki Lengser yang bertugas menghibur dan menyambut para tamu undangan di pesta-pesta tradisional biasa mengenakan model iket Julang Ngapak, demikian juga dengan posisi dan fungsi pekerjaan lainnya. Dalam sejarah, iket menunjukan fungsi pekerjaan seseorang, bukan kedudukan dan status seseorang di masyarakat dalam arti sempit.

Kenapa Namanya Iket? 

Iket dalam bahasa Indonesia artinya ikat, mengikat, atau ikatan. Jika tidak ada ikatan maka iket tersebut maknanya batal. Sejarah iket sendiri sebenarnya belum ditelusuri secara khusus, hanya berdasarkan ucapan turun-temurun dari sepuh-sepuh Sunda tanpa bukti terulis yang cukup. Meski ada beberapa versi sejarah iket Sunda, namun secara garis besar makna dan filosofinya tidak bertentangan, bahkan saling menguatkan.

Berdasarkan sejarahnya iket dibagi dua bagian besar yaitu iket bukun (iket baheula) dan iket kiwari (iket modern/iket praktis). Iket buhun adalah model iket yang direka oleh sesepuh zaman dulu di wilayah Pasundan dan dibentuk dari kain persegi empat yang dilipat dengan aturan khusus sehingga membentuk model-model iket seperti Barangbang Semplak, Julang Ngapak, Parekos Jengkol, Buaya Ngangsar, dan model-model iket yang biasa dipakai di kampung-kampung adat. Dalam sejarah iket, penamaan tersebut didasarkan pada model dan cara membentuk iket itu sendiri dimana setiap nama iket mengandung makna yang berbeda,

Berbeda dengan iket buhun, iket kiwari adalah model iket yang direka oleh orang-orang zaman sekarang yang bentuknya masih menyerupai bentuk dan model iket buhun (iket baheula) meskipun telah mengalami beberapa perubahan sesuai dengan perkembangan mode dan fashion. Perubahan paling signifikan terlihat pada warna, corak dan motif yang semakin bervariasi. Yang termasuk jenis iket buhun rekaan para leluhur di antaranya:
  1. Iket Barangbang Semplak 
  2. Iket Julang Ngapak 
  3. Iket Kuda Ngencar 
  4. Iket Parekos Nangka 
  5. Iket Parekos Jengkol 
  6. Iket Parekos Gedang 
Sedangkan yang termasuk iket kiwari rekaan budayawan dan seniman Sunda zaman sekarang di antaranya:
  1. Iket Candra Sumirat 
  2. Iket Maung Leumpang 
  3. Iket Hanjuang Nangtung 
  4. Praktis Parekos 
  5. Iket Praktis Makuta Wangsa 
  6. Iket Praktis Mancala Putra 
  7. Iket Batu Kincir (rekaan Ki Dadang) 
Menurut Ki dadang, iket identik dengan origami urang Sunda hanya saja yang dilipat bukan kertas seperti seni orang Jepang tetapi kain segi empat yang memiliki makna filosofi logis sesuai fungsi. "Lain kawas ayeuna iket teh ngan ukur dipake ubar jangar atawa ubar tiris", ujar Ki Dadang sambil bercanda. Kini untuk melestarikan seni budaya suku Sunda dan untuk menghargai sejarah para leluhur, iket mulai dibangkitkan lagi melalui beragam wadah seperti Komunitas Iket Sunda (KIS). 

Baca selengkapnya di Sejarah Iket.

Referensi:
http://www.galeri-iket.com